Langkah ke 8 Sapto Satrio Mulyo Sapto Satrio Mulyo

Apa itu Kearifan Lokal?

Gambaran Umum

Kearifan Lokal lahir dari sebuah masyarakat, atau suku bangsa, yang secara turun-temuruh menempati dan memiliki suatu wilayah, sebagai tempat hidupnya, atau yang disebut sebagai Hak Ulayat, yang juga merupakan tempat sumber-sumber daya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Norma-norma dalam Kearifan Lokal adalah hasil dari proses konstruksi budaya, yang berorientasi pada berbagai kekayaan budaya setempat, yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah masyarakat tersebut, kemudian dikenal, diperayai, dan diakui sebagai norma-norma utama, dalam rangka menjalin interaksi sosial, dalam menjawab tatanan hidup sehari-hari secara holistik, sehingga Kearifan Lokal mampu mempertebal kohesi sosial diantara mereka.

Namun demikian, Karifan Lokal tidak hanya sebatas pada apa yang dicerminkan dalam metode dan teknik pemberdayaan masyarakat saja, tetapi juga termasuk didalamnya adalah sebuah pemahaman, persepsi, dan bahkan suara hati yang berkaitan dengan interaksi sosial secara holistik.

Proses Pembentukkannya
Harus diakui, bahwa proses masyarakat menuju pada pembentukan norma-norma Kearifan Lokal, berjalan dengan waktu yang panjang pada sebuah suku bangsa / masyarakat. Untuk memahaminya lebih mendalam, kiranya hanya melalui pemahaman sejarah budaya sebuah suku bangsa / masyarakat, yang akan dapat menjawabnya.

Singkat kata, Kearifan Lokal sebuah suku bangsa / masyarakat, tidaklah dibuat dalam sehari semalam, tetapi sudah melalui proses uji coba alami, yang pada akhirnya menjadi konsensus bersama oleh seluruh masyarakat tersebut, sehingga penerapannya pun berlangsung secara alami.

Penerapannya
Jika dikaitkan dengan kekinian, dengan adanya pembangunan dan modernisasi suatu daerah, yang menyangkut masalah-masalah sosial, budaya, ekonomi, politik. Tetap saja hal ini tidak dapat terpisahkan dari kondisi tatanan geografis dan sosial budaya daerahnya.

Melihat lebih jauh lagi, bahwa Pancasila sebagai landasan ideal, UUD 1945 sebagai landasan konstitusional, adalah merupakan rangkuman dari nilai-nillai Luhur Bangsa Indonesia yang digali oleh Founding Father Bangsa Indonesia. 

Jadi dapat juga dikatakan bahwa nilai-nilai tersebut di atas adalah hasil rangkuman dari norma-norma Kearifan Lokal yang sudah terlebih dahulu diterapkan oleh Leluhur kita. 

Hanya saja, Pancasila merupakan hasil rangkuman yang menjadikan filosofi Kearifan Lokal lebih sistematis.


Kesimpulan
Dengan menjalankan Kearifan Lokal, berarti kita dapat mengoptimalkan seluruh SDA dan SDM dalam negeri secara arif dan bijaksana. Pada akhirnya masyarakat akan Sejahtera secara ekonomi, Aman dari berbagai ancaman / konflik sosial, dan Tentram lingkungan hidupnya

Oleh karenanya dengan kembali ke Kearifan Lokal, kehidupan kita akan menjadi "Sehat" (Sejahtera Aman Tentram)

Saya pikir tidak berlebihan jika saya ingin mengantarkan Kabupaten Bogor menjadi Bogor Sehat - untuk awal pengabdian saya di DPR - RI.

Catatan :
Pada kesempatan ini, sengaja saya tidak menjelaskannya apa itu Kearifan Lokal secara panjang lebar.

Jenderal Soedirman

Bekasi (WartaMerdeka) – Jenderal Besar Raden Soedirman adalah Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia sangat dihormati di Indonesia, terutaama di kalangan Militer. Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi semenjak di bangku pendidikan. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, dan menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, namun kemudian diasingkan ke Bogor.
Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Soedirman melarikan diri dari penahanan, kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Kemudian Soedirman ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat.
Pada 24 Agustus, sesudah dektrit pertama diumumkan, berangkatlah para mahasiswa yang diberi tugas ke daerah-daerah, untuk bersama Pemerintah setempat dan tokoh-tokoh masyarakat membentuk KNI Daerah, dan bersama dengan bekas PETA dan Heiho setempat membentuk BKR, dengan pesan agar merebut senjata dari Jepang. Sementara itu, Moeljo Hartrodipuro dan Soejono Ms ditugaskan untuk menyerahkan pengangkatan Pak Soedirman sebagai Komandan BKR Poerwokerto, juga untuk pengangkatan Residen Iskak dan Bupati Ganda Soebrata, Soeprapto sebagai Ketua Seinendan di Poerwokerto (Hal. 122, hal 120)
Pada 20 Oktober, Soedirman membentuk pasukan, yang kemudian dijadikan bagian dari Divisi V  oleh Panglima sementara Oerip Soemohardjo, sementara Soedirman bertanggung jawab atas divisi tersebut.
Pada 12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar TKR di Yogyakarta, Soedirman terpilih menjadi panglima besar, sedangkan Oerip, yang telah aktif di militer sebelum Soedirman lahir, menjadi kepala staff.
Sementara menunggu pengangkatan, Soedirman memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris, dan Belanda di Ambarawa. Melalui pertempuran ini, mengakibatkan penarikan diri tentara Inggris, yang berdampat pada semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Soedirman,
Pada 18 Desember, Soedirman diangkat sebagai Panglima Besar.
Selama tiga tahun berikutnya, Soedirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian Linggarjati –yang turut disusun oleh Soedirman – dan kemudian Perjanjian Renville –yang menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I kepada Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia.
Soedirman juga menghadapi pemberontakan dari dalam, termasuk upaya kudeta pada 1948. Dirinya kemudian menyalahkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai penyebab penyakit tuberkulosis-nya; karena infeksi tersebut, paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948.
Pada 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Di saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di kraton sultan, Soedirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan.
Padamulanya pasukan Soedirman diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil lolos, dan mendirikan markas sementara di Sobo, dekat Gunung Lawu. Dari tempat inilah, Soedirman mampu memberikan perintah kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.
Saat Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949. Walaupun Soedirman tetap ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, tetapi ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC-nya kambuh; ia pun pensiun, dan pindah ke Magelang. Soedirman wafat lebih kurang satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Bendera setengah tiang dikibarkan dimana-mana, ribuan orang mengiringi prosesi upacara pemakaman.
Perlawanan gerilyanya ditetapkan sebagai sarana pengembangan esprit de corps bagi Tentara Indonesia, dan rute gerilya sepanjang 100-kilometre (62 mil) yang ditempuhnya dahulu, harus diikuti oleh taruna Indonesia sebelum lulus dari Akademi Militer.
Soedirman ditampilkan dalam uang kertas rupiah keluaran 1968, dan namanya diabadikan menjadi nama sejumlah jalan, universitas, museum, dan monumen.
Pada 10 Desember 1964, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Sumber : Buku “Lahirya Satu Bangsa dan Negara – Penerbit Universitas Indonesia”, “Mahasiswa ’45 Prapatan-10: Pengabdiannya 1 – Penerbit Padma Bandung”,  dan berbagai sumber (Sapto Satrio Mulyo)
Foto : Istimewa

Sejarah Kabupaten Bogor

Cibinong, (TagarBogor) - Saat Bupati Demang Wartawangsa berusaha untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan kesejahteraan rakyat, dengan mengedepankan pemanfaatan bidang pertanian. Untuk itu, ia memerintahkan untuk menggali terusan dari Ciliwung ke Cimahpar, juga dari Nanggewer sampai ke Kalibaru/Kalimulya.

Awalnya penggalian tersebut rencananya untuk membuat terusan kali di sekitar pusat pemerintahan, tetapi pada tahun 1754 dilanjutkan hingga pusat pemerintahan yang terletak di Tanah Baru, yang kemudian dipindahkan ke Sukahati (Kampung Empang sekarang).

Dari sejarahnya, Kabupaten Bogor adalah salah satu wilayah yang menjadi pusat kerajaan tertua di Indonesia. Catatan Dinasti Sung di Cina dan prasasti yang ditemukan di Tempuran sungai Ciaruteun dengan sungai Cisadane, menjelaskan bahwa setidaknya pada paruh awal abad ke 5 M di wilayah ini telah ada sebuah bentuk Pemerintahan.

Dari catatan Dinasti Sung, tahun 430, 433, 434, 437, dan 452 Kerajaan Holotan mengirimkan utusannya ke Cina. Menurut sejarawan Prof. Dr Slamet Muljana dalam bukunya ' Dari Holotan ke Jayakarta' menyimpulkan Holotan adalah transliterasi Cina dari kata Aruteun, dan kerajaan Aruteun adalah salah satu kerajaan Hindu tertua di Pulau Jawa.

Prasasti Ciaruteun adalah bukti sejarah perpindahan kekuasaan, dari kerajaan Aruteun ke kerajaan Tarumanagara dibawah Raja Purnawarman, sekitar paruh waktu akhir sabad ke-5.

Prasasti-prasasti lainnya peninggalan Purnawarman adalah prasasti Kebon Kopi di Kecamatan Cibungbulang, Prasasti Jambu di Bukit Koleangkak (Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang), dan prasasti Lebak (di tengah sungai Cidanghiyang, Propinsi Banten).

Abad ke 6 dan ke 7, kerajaan Tarumanagara adalah penguasa tunggal  di wilayah Jawa Barat. Setelah Tarumanagara, atau pada abad-abad setelahnya, kerajaan terkenal yang pernah muncul di Tanah Pasundan (Jawa Barat) adalah Sunda, Pajajaran, Galuh, dan Kawali. Semuanya berada di wilayah Bogor dan sekitarnya.

Jadi jelas, bahwa perjalanan sejarah Kabupaten Bogor memiliki kaitan erat dengan zaman kerajaan yang pernah memerintah di wilayah tersebut. Salah satunya dengan Sri Baduga Maharaja yang dikenal sebagai raja yang mengawali zaman kerajaan Pajajaran, raja tersebut terkenal dengan ‘ajaran dari Leluhur yang menjunjung tinggi Kesejahteraan Rakyatnya’, dan secara berturut-turut tercatat dalam sejarah, adanya kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah tersebut, yakni :
  • Kerajaan Taruma Negara, diperintah oleh 12 orang raja. Berkuasa dari tahun 358 hingga tahun 669
  • Kerajaan Galuh, diperintah oleh 14 raja. Berkuasa dari tahun 516 hingga tahun 852
  • Kerajaan Sunda, diperintah oleh 28 raja. Berkuasa dari tahun 669 hingga tahun 1333
  • Kerajaan Kawali, diperintah oleh 6 orang raja dari tahun 1333 hingga 1482
  • Kerajaan Pajajaran, memerintah dari tahun 1482 hingga tahun 1579. Salah satu raja yang terkenal adalah Raja Sri Baduga Maharaja, yang mana upacara pelantikannya terkenal dengan upacara Kuwedabhakti, yang dilangsungkan pada tanggal 3 Juni 1482. Tanggal itulah kiranya yang kemudian ditetapkan sebagai hari Jadi Bogor yang secara resmi dikukuhkan melalui sidang pleno DPRD Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor pada tanggal 26 Mei 1972.
Tahun 1975, Pemerintah Pusat (melalui Menteri Dalam Negeri) menginstruksikan bahwa Kabupaten Bogor harus memiliki Pusat Pemerintahan di wilayah Kabupaten sendiri, dan pindah dari Pusat Pemerintahan Kotamadya Bogor. Dengan dasar tersebut, pemerintah daerah Tingkat II Bogor mengadakan penelitian ke beberapa wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor, untuk dijadikan calon ibu kota sekaligus berperan sebagai pusat pemerintahan. Alternatif lokasi yang dipilih antara lain : wilayah Kecamatan Ciawi (Rancamaya), Leuwiliang, Parung dan Kecamatan Cibinong (Desa Tengah).

Dari penelitian tersebut, memutuskan bahwa yang diajukan ke pemerintah Pusat untuk mendapat persetujuan sebagai ibu kota adalah Rancamaya wilayah Kecamatan Ciawi. Pemerintah Pusat menilai, bahwa Rancamaya masih relatif dekat letaknya dengan pusat pemerintahan Kotamadya Bogor, dan dikhawatirkan akan masuk ke dalam rencana perluasan dan pengembangan wilayah Kotamadya Bogor.

Kemudian, atas petunjuk pemerintah Pusat agar pemerintah daerah Tingkat II Bogor mengambil salah satu alternatif wilayah dari hasil penelitian lainnya. Melalui sidang Pleno DPRD Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor tahun 1980, ditetapkan bahwa calon ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor terletak di Desa Tengah Kecamatan Cibinong.

Setelah mendapatkan hasil penetapan tersebut di atas, lalu calon ibu kota ini diusulkan kembali ke pemerintah Pusat,  dan mendapat persetujuan serta dikukuhkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1982, yang menegaskan bahwa ibu kota pusat pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor berkedudukan di Desa Tengah Kecamatan Cibinong.

Sejak saat itulah, dimulai rencana persiapan pembangunan pusat pemerintahan ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor dan pada tanggal 5 Oktober 1985 dilaksanakan peletakan batu pertama oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bogor pada saat itu.

Ada yang menarik dari Sejarah berdirinya Kabupaten Bogor, yakni adanya komitmen Penguasa untuk Mensejahterakan Rakyatnya.

Berangkat dari Pemikiran itulah, maka Sapto Satrio Mulyo mengembangkan Bogor Sehat (Sejahtera Aman Tentram). (IB). Foto  : Istimewa

Komunitas Tanah Impian

Komunitas Tanah Impian saya cetuskan pada tahun 2010, dimana saat itu saya merasa prihatin terhadap pemuda / pemudi Indonesia yang tidak suka dengan Sejarah pada umumya, dan Sejarah Nusantara pada khususnya.

Dengan memulai mencari bahan, menyusun bahan sesuai lini masa, hingga merancang template yang ingin saya gunakan.

Hingga sampai pada rancanangan template sederhana, namun mudah dicerna, yakni dengan Menu Tahun, dimana Menu sebelah Kiri adalah menurun dari tahun 1 Masehi ke Sebelum Masehi, sementara Menu sebelah Kanan adalah menurun dari tahun 1 Masehi ke Tahun Teranyar.

Demikianlah awalnya, saya membuat Komunitas ini, yang sebenarnya tidak sengaja saya buat.

Selanjutnya, mulai banyak teman-teman yang suka dengan Sejarah, mulai merapat, dan kami sering berdiskusi.

Dengan berjalannya waktu, ternyata ada dari teman-teman yang pindah ke tempat lain, juga ternyata mereka tetap konsisten ingin menularkan Sejarah Nusantara dengan merujuk pada Perpustakaan Tanah Impian yang saya kumpulkan bahan" nya dan tulis sendiri, dengan beberapa dibantu oleh kontributor, yang meng email saya berbagai data.

Perpustakaan Tanah Impian bukanlah Perpustakaan Offline, melainkan Perpustakaan Dunia Maya (Online).

Bersyukur meski Komunitas ini tidak secara resmi kami data keanggotaannya, namun dari tiap-tiap cluster, mereka selalu berbagi jumlah keanggotaannya.

Moto kami : "Berjuang dengan Sejarah" 

Sementara Logika Berfikir kami : "Sejarah Tanpa Tahun adalah Dongeng Belaka"

Hal ini untuk menjadi pengingat kita, agar jika ada yang cerita Sejarah, maka teman-teman dari Komunitas secara langsung menanyakan "Itu Tahun Berapa Kejadiannya"

Bersyukur dengan 2 Alat Bantu di atas (Moto dan Logika Berfikir), banyak sudah "Kebohongan Sejarah" yang terungkap di seputaran mereka.

Langkah selanjutnya, setelah 2 Alat Bantu tersebut sudah melekat, maka mereka mulai memakai logika, saat ditunjukan tempat dan benda bersejarah. Logika itu akan menjawab tua tidaknya benda purbakala di seputar mereka, valid tidaknya benda purbakala di seputar mereka, dst...

Sapto Satrio Mulyo | Semoga Bermanfaat

Surya Paloh manifestasi lahirnya Politisi Negarawan Indonesia

Bekasi, (WartaMerdeka) - Menyimak wawancara Surya Paloh di sebuah acara di TV swasta, pernyataannya sungguh mengagumkan, hal itu diperkuat dengan film dokumenter pidatonya di depan para kader Nasdem, yang meyatakan bahwa dirinya sudah selesai, yang dilanjutkan dengan pernyataan  bahwa dirinya tidak ingin dicalonkan, baik untuk menjadi Capres maupun menjadi Cawapres.

Jadi ini jelas bukanlah sebuah manover politik, yang ujung-ujungnya mengincar untuk menjadi Cawapres dari Bapak Joko Widodo. Apalagi ketika mendengar yargon-yargon Nasdem yang lantang mengumandangkan "Jokowi Presidenku, Nasdem Partaiku"

Sungguh pelajaran politik yang sangat berharga bagi Bangsa dan Negara Indonesia, di tengah hingar bingar Gaduhnya Politik, yang saling menghujat, demi kepentingan para Politisi Politikus.

Semenjak Bung Karno, belum ada lagi yang dapat kita sebut sebagai "Politisi Negarawan", di kancah Politik Nasional, NKRI. 

Mungkin agar tidak salah paham, saya ingin berbagi terlebih dahulu, apa itu Politisi Negarawan dan apa itu Politisi Politikus?

Politisi Negarawan adalah seorang Praktisi Politik atau Pengamat Politik yang Buah Pikirannya "Berpengaruh Positif" pada pola pikir Kekuasaan dan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Jelas, Politisi Negarawan memiliki pengaruh positif secara langsung pada Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. 

Jadi kita tidak saling mencoba untuk menyodorkan si Badu yang bukan Praktisi Politik dan bukan Pengamat Politik yang dikenal Pengaruhnya, sebagai Politisi Negarawan. Atau justru si Badu yang prilaku politiknya "Berpengaruh Negatif" pada Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Politisi Negarawan selalu melihat bagi kepentingan Bangsa dan Negaranya, bukan pada Golongan atau Partai-nya semata, tetapi lebih kepada Keselamatan dan Kesejahteraan Bangsanya sendiri (red. Bangsa Indonesia), bukan bangsa lain yang memiliki nilai budaya lain, yang kini sedang marak, para etnis di Indonesia yang ingin menguasai Bangsa Indonesia.

Beda dengan Politisi Politikus seperti FH, FZ, SN, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, yang jelas-jelas mereka bertiga hanyalah figur Politisi Politikus. Mungkin untuk ketiga orang tersebut saya tidak perlu menerangkan, karena itu contoh yang paling pas untuk sebuah contoh Politisi Politikus.

Politisi Politikus rela menggadaikan segalanya untuk kepentingan Bangsa lain.

Catatan dari saya, semoga Bapak Surya Paloh tetap konsisten dengan segala ucapannya, sehingga Prilakunya dapat menjadi setitik air yang sangat berarti bagi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Indonesia. Bukan Fatamorgana yang kini sedang disajikan oleh para etnis yang bertikai di Indonesia.

Pernah saya unggah di : http://www.wartamerdeka.web.id/2018/03/surya-paloh-manifestasi-lahirnya.html

Sapto Satrio Mulyo | Foto : MetroNews.com | Semoga Bermanfaat

Jejak Langkah yang Tertinggal

Pernah saya unggah di Instagram | Lokasi : Perum Wisma Jaya - Bekasi

Jejak kita adalah sejarah hidup kita, apapun alasannya, kita meninggalkan jejak, apakah itu kebaikan atau keburukan.

Jangan jadikan perbuatan baik hanya menjadi sebuah yargon, tetapi jadikan perbuatan sebagai prilaku Kajiwo (selalu mengutamakan empati). Esensi berbuat baik, seyogyanya kita tidak pernah menyadari, bahwa perbuatan kita adalah, cerminan orang bersikap kepada diri kita.

Sapto Satrio Mulyo | Semoga Bermanfaat


Masih Adakah Pahlawan di Indonesia Yang Tidak Korupsi?


Jakarta (Indonesia Mandiri) - "Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghormati Jasa Pahlawannya." Itu adalah kalimat yg perlu diingat & direnungkan, Pidato Bung Karno pada Hari Pahlawan 10 November 1961.

Membaca kalimat tersebut pada saat ini, membuat kita terus bertanya? Apakah masih ada Pahlawan di dalam lingkungan politik Indonesia? Setahu saya sekarang ini, yang ada di dalam Lingkaran Masyarakat Internal Sistem Politik di Indonesia, semuanya hanyalah Politisi Politikus. Sudah tidak ada lagi Politisi Negarawan. Karena semua Politisi Politikus takut, senang dan bahkan berselingkuh dengan "Uang".

Terakhir mungkin hanyalah Bung Karno, pemimpin yang memiliki predikat Politisi Negarawan. Karena Soeharto meninggalkan Sistem Kapitalistis, atau bahkan sebagai pelopor Kapitalis Kropos di Indonesia. Pada saat Soeharto, Pancasila dan UUD'45 hanya dijadikan pagar kedua setelah Jargonnya yang terkenal "Stabilitas Nasional demi Pembangunan Nasional".

Kenapa sebagai pagar kedua, karena jika ia tidak bisa membuktikan pelanggaran lawan-lawan politiknya terhadap "Pembangunan Nasional," maka ia melegitimasinya dengan Pancasila dan UUD 1945 (ini perlu pembahasan tersendiri).

Dengan berlindung di belakang "Stabilitas Nasional", maka Soeharto dengan mudahnya membabat habis, semua lawan politiknya. Tidak sampai di situ, Pancasila dan UUD'45 dijadikan sebagai Hafalan Belaka (Tidak diterapkan seutuhnya), dimana Soeharto menerapkan hal lain, yakni Sistem Yang Cenderung Kapitalistis (Seperti Negara-negara Barat), dan Otoriter (Seperti Negara-negara Komunis) pada saat bersamaan. Sehingga pada saat itu, sebenarnya kalau kita jeli, "Pancasila dan UUD 1945", dan "Stabilitas Nasional" merupakan proses pembenturan nilai-nilai pola pikir bawah sadar kita. Yangmana, kasat mata seolah ia ingin melestarikan "Pancasila dan UUD 1945", tetapi sebenarnya merupakan proses pembusukan terhadap Pancasila dan UUD 1945 itu sendiri.

Rancangan Embrio "Bom Waktu" ini didorong dan dibiayai oleh Duo AS, untuk mendorong pengrusakan makna yang terkandung di dalam Pancasila dan UUD 1945 dari dalam bangsa Indonesia sendiri. Hal ini terbukti, setelah ia lengser, terjadi desakan yang sangat besar terhadap pelaksanaan  Amandemen UUD 1945. Dengan Amandemen, maka prosesnya dapat dibeli oleh Duo AS. Terbukti lagi, sistem pemerintahan sekarang ini kocar-kacir.

Jadi jelas, mulai sejak lengsernya Bung Karno, tidak ada lagi Pahlawan di Indonesia yang lahir di lingkungan Politik Praktis yang bersih dari pengaruh dan pembiayaan Duo AS. Justru yang masih mungkin adalah, Pahlawan yang lahir di desa-desa yang masih bersih dari Polusi Udara maupun dari "Polusi Politicking"

Dengan demikian, kita harus sadar-sesadar-sadarnya, bahwa Taman Makam Pahlawan hanya diperuntukan bagi sisa-sisa pejuang 1945, atau bahkan bagi Pejuang Kearifan Lokal Indonesia yang ada di desa-desa. Sebab jika masih ada Politisi Politikus yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, maka sama saja kita melegitimasi bahwa nilai-nilai Korupsi itu adalah Pahlawan.

Tulisan ini sudah pernah saya unggah di Indonesia Mandiri : http://www.indonesiamandiri.id/2014/07/masih-adakah-pahlawan-di-indonesia-yang.html

Sapto Satrio Mulyo | Semoga Bermanfaat
Sapto Satrio Mulyo : Kembali ke Kearifan Lokal

Sebuah pola kehidupan peninggalan Leluhur kita yang banyak dilupakan. Sejatinya, Kearifan Lokal tidak bertolak belakang dengan Modernisasi, tetapi justru sebagai rel atau pijakan kemana arah Bangsa ini akan berlabuh dengan Sehat

Bogor yang ber-Kearifan Lokal, pasti lebih maju, Sejahtera Aman Tentram (Sehat)

Bogor Sehat (Sejahtera, Aman dan Tentram )