Langkah ke 8 Sapto Satrio Mulyo "Susu Kaleng" = Kesetaraan Gender - Sapto Satrio Mulyo

Sapto Satrio Mulyo
Calon Anggota DPR-RI Daerah Pemilihan Jawa Barat V
(Kabupaten Bogor) Nomor Urut 8

"Susu Kaleng" = Kesetaraan Gender

Sapto Satrio Mulyo - 2007
Dahulu kita menyebut "Susu Bubuk" adalah "Susu Kaleng", karena kemasannya di dalam kaleng. Dengan adanya "Susu Kaleng", ini merupakan sebuah Revolusi Budaya Ibu Menyusui, dimana Ibu-ibu dapat tidak serta merta harus dekat dengan bayinya, karena sudah ada substitusi ASI. Menurut hemat penulis, dari sinilah mobilitas wanita mulai lebih mudah. Begitulah sekilas mengenai makna dari "Susu Kaleng", yang sangat berpengaruh terhadap akselerasi Kesetaraan Gender. (Baca : Susu Kaleng dan Baby Siter)

Penulis adalah seorang yang sangat mendukung kesetaraan Gender, jika diterapkan dengan single standart. Karena menurut penulis, dengan kesetaraan Gender - yang notabene merupakan pengaruh nilai-nilai asing ini, kita hanya diajarkan pada pola saling bahu membahu, tanpa membedakan Gender itu sendiri, dengan pola mengkiritisi lawan jenisnya.

Singkatnya, kalau poligami diperbolehkan, maka kita pun harus pula mendukung diperbolehkannya poliandri. Dengan kata lain, ini adalah penerapan satu standar bagi siapapun. Penulis sangat tidak suka dengan standar ganda. Bagi penulis, "kalau dia boleh maka saya pun boleh, atau sebaliknya, kalau saya boleh, maka diapun boleh".

Di sisi lain, tidak boleh ada previlage bagi siapapun. Karena menurut penulis, segala perkembangan harus melalui proses alami, jadi tidak ada proses rekayasa yang justru akan menyesatkan.

Meskipun kita baru mendengar gembar-gembor yang santer mengenai gerakan kesetaraan Gender, 10 tahun belakangan ini. Tetapi, dalam kenyataannya kita sudah memiliki "Ibu Kartini" jauh sebelum itu, dan dalam penerapannya, kita justru sudah melakukan beberapa langkah di depan. Contohnya, kita sudah pernah memiliki presiden wanita.

Jadi, sudah terbukti, bahwa di Indonesia, kaum wanita dapat mencapai hingga karir tertinggi, jika memang ia mempunyai kemampuan untuk melalui ujian-ujian yang juga dilalui oleh kaum pria. Tetapi Mengapa Wanita Jadi Kaum Lemah?

Di satu sisi pada pernyataan di atas, bahwa penulis paling tidak setuju dengan previlage,  di sisi lain penulis juga tidak setuju jika ada pembatasan karir pria, demi memberikan kesempatan bagi wanita, atau sebaliknya. Seperti yang terjadi saat ini, dimana ada keikutsertaan yang dipaksakan, seperti syarat 30% anggota DPR RI harus diisi oleh wanita.

Selanjutnya, semoga setelah membaca E-Book “Susu Kaleng”. pembaca mempunyai sisi lain, dalam menilai kesetaraan Gender. Dari pagi-pagi, penulis ingin menyatakan bahwa penulis tidak meng-klaim bahwa tulisan ini adalah yang paling benar. Tetapi paling tidak, tulisan ini dapat memberikan pandangan lain, atau nuansa lain dari sisi yang sama, maupun sisi yang berbeda.

Dengan ada nuansa lain dalam buku ini, diharapkan, akan ada proses menuju ke arah Kesetaraan Gender yang benar-benar setara dan tidak semu. Hal ini sangat perlu, karena sebenarnya kita sudah memiliki Nilai-nilai Luhur dalam interaksi antara wanita dan pria, yang digambarkan oleh Mimi lan Mintuno, yang memiliki filososi yang sangat tinggi yakni "Wanita dan Pria adalah Satu Kesatuan Yang Saling Melengkapi," dan bukan Saling Bersaing atau Mengkritisi satu sama lainnya, dengan hitung-hitungan untung rugi, yang pada akhirnya mencari-cari siapa yang lebih banyak salah, dan siapa yang lebih banyak benar.

Perlu dicamkan oleh kita semua, nilai-nilai yang mana yang akan kita terapkan untuk Keluarga kita kelak? Itu adalah pilihan Anda dan Pasangan Anda.

Sedikit gambaran, jika Anda berasal dari Keluarga yang berpola pikir Kapitalis, mungkin Kesetaraan Gender adalah hal yang cocok untuk membangun Rumah Tangga Anda kelak. Tetapi jika Anda berasal dari Keluarga yang Bahagia, seperti yang penulis rasakan dari kecil hingga Kedua Orang Tua penulis meninggal dunia, dimana mereka (Red. Ayah dan Ibu penulis) tidak pernah satu kali pun terlihat saling menyalahkan, karena mereka saling melengkapi. Maka, meskipun penulis, menuliskan "Buku Elektronik Kesetaraan Gender" ini, tetapi penulis lebih memilih untuk hidup secara Mimi lan Mintuno.

Untuk mengenang, bagaimana kedua orang tua penulis bercengkrama, maka penulis membuatkan sebuah lagu khusus bagi mendiang mereka berdua, yang berjudul "Bilaku Cinta Lagi" atau penulis singkat dengan BCL. Didalam lirik lagu ini, penulis menggambarkan, bagaimana mereka dalam kehidupan perkawinannya, tidak pernah tidak saling memuji, hingga sepanjang hidup mereka berdua, mereka saling selalu jatuh cinta.

Pernah saya unggah di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/tanahimpian/susu-kaleng-kesetaraan-gender_552e5ca16ea8341d548b45d7

Sapto Satrio Mulyo | Semoga Bermanfaat
Sapto Satrio Mulyo : Kembali ke Kearifan Lokal

Sebuah pola kehidupan peninggalan Leluhur kita yang banyak dilupakan. Sejatinya, Kearifan Lokal tidak bertolak belakang dengan Modernisasi, tetapi justru sebagai rel atau pijakan kemana arah Bangsa ini akan berlabuh dengan Sehat

Bogor yang ber-Kearifan Lokal, pasti lebih maju, Sejahtera Aman Tentram (Sehat)

Bogor Sehat (Sejahtera, Aman dan Tentram )