Sapto Satrio Mulyo
Calon Anggota DPR-RI Daerah Pemilihan Jawa Barat V
(Kabupaten Bogor) Nomor Urut 8

Surya Paloh manifestasi lahirnya Politisi Negarawan Indonesia

Bekasi, (WartaMerdeka) - Menyimak wawancara Surya Paloh di sebuah acara di TV swasta, pernyataannya sungguh mengagumkan, hal itu diperkuat dengan film dokumenter pidatonya di depan para kader Nasdem, yang meyatakan bahwa dirinya sudah selesai, yang dilanjutkan dengan pernyataan  bahwa dirinya tidak ingin dicalonkan, baik untuk menjadi Capres maupun menjadi Cawapres.

Jadi ini jelas bukanlah sebuah manover politik, yang ujung-ujungnya mengincar untuk menjadi Cawapres dari Bapak Joko Widodo. Apalagi ketika mendengar yargon-yargon Nasdem yang lantang mengumandangkan "Jokowi Presidenku, Nasdem Partaiku"

Sungguh pelajaran politik yang sangat berharga bagi Bangsa dan Negara Indonesia, di tengah hingar bingar Gaduhnya Politik, yang saling menghujat, demi kepentingan para Politisi Politikus.

Semenjak Bung Karno, belum ada lagi yang dapat kita sebut sebagai "Politisi Negarawan", di kancah Politik Nasional, NKRI. 

Mungkin agar tidak salah paham, saya ingin berbagi terlebih dahulu, apa itu Politisi Negarawan dan apa itu Politisi Politikus?

Politisi Negarawan adalah seorang Praktisi Politik atau Pengamat Politik yang Buah Pikirannya "Berpengaruh Positif" pada pola pikir Kekuasaan dan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Jelas, Politisi Negarawan memiliki pengaruh positif secara langsung pada Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. 

Jadi kita tidak saling mencoba untuk menyodorkan si Badu yang bukan Praktisi Politik dan bukan Pengamat Politik yang dikenal Pengaruhnya, sebagai Politisi Negarawan. Atau justru si Badu yang prilaku politiknya "Berpengaruh Negatif" pada Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Politisi Negarawan selalu melihat bagi kepentingan Bangsa dan Negaranya, bukan pada Golongan atau Partai-nya semata, tetapi lebih kepada Keselamatan dan Kesejahteraan Bangsanya sendiri (red. Bangsa Indonesia), bukan bangsa lain yang memiliki nilai budaya lain, yang kini sedang marak, para etnis di Indonesia yang ingin menguasai Bangsa Indonesia.

Beda dengan Politisi Politikus seperti FH, FZ, SN, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, yang jelas-jelas mereka bertiga hanyalah figur Politisi Politikus. Mungkin untuk ketiga orang tersebut saya tidak perlu menerangkan, karena itu contoh yang paling pas untuk sebuah contoh Politisi Politikus.

Politisi Politikus rela menggadaikan segalanya untuk kepentingan Bangsa lain.

Catatan dari saya, semoga Bapak Surya Paloh tetap konsisten dengan segala ucapannya, sehingga Prilakunya dapat menjadi setitik air yang sangat berarti bagi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Indonesia. Bukan Fatamorgana yang kini sedang disajikan oleh para etnis yang bertikai di Indonesia.

Pernah saya unggah di : http://www.wartamerdeka.web.id/2018/03/surya-paloh-manifestasi-lahirnya.html

Sapto Satrio Mulyo | Foto : MetroNews.com | Semoga Bermanfaat
Sapto Satrio Mulyo : Kembali ke Kearifan Lokal

Sebuah pola kehidupan peninggalan Leluhur kita yang banyak dilupakan. Sejatinya, Kearifan Lokal tidak bertolak belakang dengan Modernisasi, tetapi justru sebagai rel atau pijakan kemana arah Bangsa ini akan berlabuh dengan Sehat

Bogor yang ber-Kearifan Lokal, pasti lebih maju, Sejahtera Aman Tentram (Sehat)

Bogor Sehat (Sejahtera, Aman dan Tentram )