Langkah ke 8 Sapto Satrio Mulyo Masih Adakah Pahlawan di Indonesia Yang Tidak Korupsi? - Sapto Satrio Mulyo

Sapto Satrio Mulyo
Calon Anggota DPR-RI Daerah Pemilihan Jawa Barat V
(Kabupaten Bogor) Nomor Urut 8

Masih Adakah Pahlawan di Indonesia Yang Tidak Korupsi?


Jakarta (Indonesia Mandiri) - "Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghormati Jasa Pahlawannya." Itu adalah kalimat yg perlu diingat & direnungkan, Pidato Bung Karno pada Hari Pahlawan 10 November 1961.

Membaca kalimat tersebut pada saat ini, membuat kita terus bertanya? Apakah masih ada Pahlawan di dalam lingkungan politik Indonesia? Setahu saya sekarang ini, yang ada di dalam Lingkaran Masyarakat Internal Sistem Politik di Indonesia, semuanya hanyalah Politisi Politikus. Sudah tidak ada lagi Politisi Negarawan. Karena semua Politisi Politikus takut, senang dan bahkan berselingkuh dengan "Uang".

Terakhir mungkin hanyalah Bung Karno, pemimpin yang memiliki predikat Politisi Negarawan. Karena Soeharto meninggalkan Sistem Kapitalistis, atau bahkan sebagai pelopor Kapitalis Kropos di Indonesia. Pada saat Soeharto, Pancasila dan UUD'45 hanya dijadikan pagar kedua setelah Jargonnya yang terkenal "Stabilitas Nasional demi Pembangunan Nasional".

Kenapa sebagai pagar kedua, karena jika ia tidak bisa membuktikan pelanggaran lawan-lawan politiknya terhadap "Pembangunan Nasional," maka ia melegitimasinya dengan Pancasila dan UUD 1945 (ini perlu pembahasan tersendiri).

Dengan berlindung di belakang "Stabilitas Nasional", maka Soeharto dengan mudahnya membabat habis, semua lawan politiknya. Tidak sampai di situ, Pancasila dan UUD'45 dijadikan sebagai Hafalan Belaka (Tidak diterapkan seutuhnya), dimana Soeharto menerapkan hal lain, yakni Sistem Yang Cenderung Kapitalistis (Seperti Negara-negara Barat), dan Otoriter (Seperti Negara-negara Komunis) pada saat bersamaan. Sehingga pada saat itu, sebenarnya kalau kita jeli, "Pancasila dan UUD 1945", dan "Stabilitas Nasional" merupakan proses pembenturan nilai-nilai pola pikir bawah sadar kita. Yangmana, kasat mata seolah ia ingin melestarikan "Pancasila dan UUD 1945", tetapi sebenarnya merupakan proses pembusukan terhadap Pancasila dan UUD 1945 itu sendiri.

Rancangan Embrio "Bom Waktu" ini didorong dan dibiayai oleh Duo AS, untuk mendorong pengrusakan makna yang terkandung di dalam Pancasila dan UUD 1945 dari dalam bangsa Indonesia sendiri. Hal ini terbukti, setelah ia lengser, terjadi desakan yang sangat besar terhadap pelaksanaan  Amandemen UUD 1945. Dengan Amandemen, maka prosesnya dapat dibeli oleh Duo AS. Terbukti lagi, sistem pemerintahan sekarang ini kocar-kacir.

Jadi jelas, mulai sejak lengsernya Bung Karno, tidak ada lagi Pahlawan di Indonesia yang lahir di lingkungan Politik Praktis yang bersih dari pengaruh dan pembiayaan Duo AS. Justru yang masih mungkin adalah, Pahlawan yang lahir di desa-desa yang masih bersih dari Polusi Udara maupun dari "Polusi Politicking"

Dengan demikian, kita harus sadar-sesadar-sadarnya, bahwa Taman Makam Pahlawan hanya diperuntukan bagi sisa-sisa pejuang 1945, atau bahkan bagi Pejuang Kearifan Lokal Indonesia yang ada di desa-desa. Sebab jika masih ada Politisi Politikus yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, maka sama saja kita melegitimasi bahwa nilai-nilai Korupsi itu adalah Pahlawan.

Tulisan ini sudah pernah saya unggah di Indonesia Mandiri : http://www.indonesiamandiri.id/2014/07/masih-adakah-pahlawan-di-indonesia-yang.html

Sapto Satrio Mulyo | Semoga Bermanfaat
Sapto Satrio Mulyo : Kembali ke Kearifan Lokal

Sebuah pola kehidupan peninggalan Leluhur kita yang banyak dilupakan. Sejatinya, Kearifan Lokal tidak bertolak belakang dengan Modernisasi, tetapi justru sebagai rel atau pijakan kemana arah Bangsa ini akan berlabuh dengan Sehat

Bogor yang ber-Kearifan Lokal, pasti lebih maju, Sejahtera Aman Tentram (Sehat)

Bogor Sehat (Sejahtera, Aman dan Tentram )